Kamis, 14 Desember 2017

Pendakian Gunung Sumbing via Garung (perjuangan menerjang badai, menuntaskan 3S), Desember 2017

Mt.Sumbing 1-3 Desember 2017

Gunung Sumbing adalah gunung api dengan tinggi 3.371 Mdpl, merupakan gunung tertinggi ke tiga di pulau Jawa setelah Gunung Semeru dan Gunung Slamet.
Gunung ini memiliki 2 puncak yaitu Puncak Buntu (3362 Mdpl), dan Puncak Sejati (3371 Mdpl).
Dari puncaknya bisa melihat hampir seluruh gunung di Jawa Tengah mulai dari gunung Sindoro, Slamet, Merapi, Merbabu, Prau, Lawu, Ungaran, Telomoyo hingga Andong.

Puncak Gunung Sumbing
Gunung Sumbing terletak di tiga kabupaten Jawa Tengah yaitu kabupaten Magelang, Temanggung, dan Wonosobo, bersandingan dengan Gunung Sindoro karena letaknya yang berdekatan dan sering disebut dengan gunung kembar.

Terdapat tiga jalur untuk mencapai puncak Gunung Sumbing, yaitu Jalur Cepit Parakan, Jalur Bowongso, Jalur Kaliangkrik, Jalur Banaran, dan Jalur via Garung.




Seperti biasa, saya memilih jalur yang menjadi favorit para pendaki, yaitu via Garung karena menuju basecamp nya mudah diakses.
Via Garung sendiri memiliki 2 jalur, yaitu jalur lama dan jalur baru...saya memilih jalur lama karena jalur ini yang disarankan dan banyak pendaki yang lewat jalur lama dibanding jalur baru.

Menuju basecamp Garung, dari Jakarta, Bandung dan sekitarnya tidaklah sulit..gunakan bus jurusan Wonosobo, dan turun di terminal Mendolo Wonosobo, setelah itu naik bus/elf ke basecamp garung, berhenti di Balai Desa / Bank BRI, dari situ berjalan menuju basecamp Garung.

Saya dan rombongan pergi dari Terminal Harjamukti Cirebon jam 07.15 menggunakan bus Sahabat menuju Purwokerto (dikarenakan tidak ada bus dari Cirebon yang langsung ke Wonosobo), lalu dilanjutkan menggunakan bus 3/4 menuju Terminal Mendolo Wonosobo, setelah itu di lanjut naik mobil sewaan (Kijang) menuju basecamp Garung, dan sampai jam 16.45 sudah plus istirahat makan siang  selama satu jam di terminal Purwokerto dan istirahat di terminal Wonosobo.

Walaupun dari Cirebon jaraknya lebih dekat di banding dengan Jakarta dan Bandung namun ongkos menggunakan bus lebih mahal karena harus ganti bus di Purwokerto menuju Wonosobo, sedangkan dari Jakarta dan Bandung bus langsung menuju Terminal Mendolo Wonosobo.

 Terminal Mendolo Wonosobo



Karena katanya pendakian Sumbing ini adalah jalur terkejam di Jawa Tengah, ada hal yang perlu diperhatikan sebelum mendaki Gunung Sumbing :

- Hanya terdapat satu sumber air saja yaitu di dekat Pos 1, lokasinya berada di belakang Pos ojek, namun terkadang saat musim kemarau sumber air ini kering, jadi sebaiknya bawa air dari basecamp.
Bawa perbekalan air yang cukup minimal 1 orang membawa 3 botol ukuran 1,5 liter.

- Lebih di saran kan untuk naik ojek dari Basecamp ke Pos 1 untuk menghemat waktu dan tenaga, karena jika kita berjalan kaki membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. 
Yang anti naik ojek terserah saja, bagi saya yang di daki adalah gunung..saya bukan mendaki perkampungan..selagi ada fasilitas ojek dan ada uangnya kenapa harus jalan kaki ? jika anti ojek sekalian saja jalan dari rumah...oke mas jek ! πŸ˜€.
Menggunakan jasa ojek ongkos Rp.50.000/orang PP dengan waktu 15 menit.

- Biasanya untuk mendirikan tenda terakhir sebelum summit di Pestan dan bawahnya, tapi lebih direkomendasikan di bawah Pestan karena banyak pepohonan,  di Pestan cukup rawan terkena badai sebab tidak ada pepohonan yang menghalangi.
Dari Pestan menuju Puncak masih membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam dengan jalur menanjak nan kejam.

- So...selamat menikmati jalur kejamnya πŸ˜„.

Baiklah...mari mulai bercerita ala emak-emak rempong😝

Saya berangkat dari Cirebon 11 orang, yaitu : Saya, Suami, Agus, Egi, Opik, Isak, Dadung, Dedi, Dian, Ela, Dinda...sebut saja kami tim kesebelasan PSBS (Persatuan Sepak Badai Sumbing) 😌.

Sampai di basecamp suasana kabut tebal dan badai menyambut kedatangan kami, sudah banyak pendaki lain disana sehingga ruangan basecamp dengan kapasitas sekitar 50 orang sudah penuh.

Basecamp


Beberapa pendaki terlihat baru turun dengan wajah acakadut, bercerita terhadang badai sehingga terpaksa kembali dan tidak bisa muncak.
Terlintas dalam benak saya, bagaimana dengan saya dan rombongan ??
Saya menyempatkan diri keluar sendirian, berada di tengah jalan dengan angin super kencang memandang ke arah gunung, berdoa sejenak...berharap Allah memberikan kelancaran untuk perjalanan besok....Aminnnnn.

Malam itu saya langsung melakukan registrasi pendakian di basecamp dengan biaya Rp. 15.000,- / orang.
Proses registrasi tidak ribet, hanya menulis nama peserta dan asal daerah..beresss deh !
Tiga lembar peta lengkap berikut karung untuk sampah diberikan petugas untuk saya dan rombongan.



Saya dan rombongan memutuskan untuk tidak menginap di basecamp karena penuh.
Kami di tawar kan menginap di sebuah rumah warga yang berada di atas basecamp.
Tempat yang lumayan nyaman, sebuah rumah dengan warung yang bisa melengkapi kebutuhan logistik yang kurang untuk pendakian.
Pemilik rumah bernama Pak Suhada dan Ibu Sofi, mereka adalah orang yang ramah, yang selalu membantu saya dan rombongan melengkapi kebutuhan yang kurang selama disana sehingga kami tak perlu repot-repot mencari pasar atau mini market, karena pak Suhada siap sedia membelikannya ke pasar..haturnuhun..pa..bu..😊.

Kediaman Pak Suhada & Ibu Sofi


Tim Kesebelasan PSBS


Setelah tidur nyenyak menikmati dinginnya malam di temani badai dengan berisiknya suara genteng terkena badai, pagi hari kami bersiap-siap....dan ?????
OMG.........again and again, ingin nangis guling-guling rasanya ketika ke kamar mandi mendapati saya datang bulan 😠😟😒.
Rasanya kesal melebihi rasa kesal pada mas ojek yang minta 25rb ketika turun ke basecamp !! (baca info tentang mas ojek setelah ini).

Ok fine...seperti biasa, yang penting niat dalam hati dan kuatkan tekad tak akan terjadi apa-apa..da aku mah apa atuh orangnya setrong...hiks...hiks.

Jam 8.30 saya memulai pendakian menuju pos 1 menggunakan ojek.
Ongkos naik ojek ke pos 1 Rp. 25.000,- (sesuai info petugas di basecamp), dan ketika turun info dari basecamp ongkosnya lebih murah yaitu Rp. 20.000,- namun kenyataannya saya harus bayar Rp. 25.000,- ketika turun...sungguh kesal rasanya, dan tak lupa saya memberikan persembahan terakhir buat mas ojek berupa kukulutus (menggerutu) dan wajah super jutek.....kezzellllllll jek !

Lupakan soal ongkos...mari memacu adrenalin lagi seperti hal nya di Sindoro (⏩ Gunung Sindoro via Kledung, November 2017 )

Namun kali ini berbeda dengan di Sindoro, jangan terkaget-kaget jika penumpangnya diharuskan duduk di depan seperti cengek-cengekan berpegangan pada setang kemudi, dan carrier sudah tentu digendong mas ojek..berasa jadi balita gitu deh..unyu-unyu bingitssss beibehhhh.
 
Mas ojek langsung gas polllllll... menuju jalanan nanjak, dan berbatu, sempit, berbelok dengan pinggiran jurang menggunakan kecepatan sekitar 60km/jam dengan suara gerungan motor super berisik !! edannnn...saya tak kuasa menahan haru (ngeri)...histerissss (dalam hati) !! ohhh tidakkkkkkkkkkkkkkkkk !!

Otw Pos 1



Pos 1, Malim

15 menit sampai di Pos 1....ruarrrrrrr biasaaaa ! karena jika harus berjalan akan memakan waktu normalnya 2-3 jam...entah berapa jam  jika saya yang berjalan..maklum dong ya..manula sok setrong πŸ˜‚.
Maka di saran kan banget kalau ada uangnya naik ojek aja untuk menghemat waktu dan tenaga.

Pos 1, Malim

Setelah berkumpul semua, kami memulai pendakian jam 09.00 di temani badai dan banyak pohon tumbang.
Beberapakali saya berhenti di daerah yang berpohon jarang jika angin semakin kencang, kuatir jika ada pohon ambruk menimpa tubuh saya yang sebagian imut-imut dan sebagian lagi di hinggapi lemak-lemak jahat...arggghhhhhh.

Trek menuju pos 2 menanjak terus, sesekali bonus.
Dengan penuh semangat saya berjalan agak cepat, dan cepat juga istirahatnya...menit pertama nafas belum stabil, menit berikut belum stabil juga, dan berikut serta berikutnya....tetap tidak stabil juga kaleusssss !!

Ngos-ngosan masih pada tingkat ketua rt dan rw setempat, belum pada tingkat dewa...entah lah, saya merasa enjoy dan tidak merasa letih yang berlebihan walau rasanya pos 2 tak kunjung terlihat.

Trek menuju Pos 2






Pos 2, Genus

Ahaaaa...dua jam perjalanan akhirnya sampai di Pos 2 jam 11.00.
Kami semua makan siang, setelah selesai makan...bencana menerjang perut saya, sakit perut akibat si 'datang bulan' mulai terasa menyiksa. 

Dan kami beristirahat di pos 2 selama dua jam !!
Dua jam ???? ya gitu deh jika para pelawak amatiran berkumpul...becanda kaga ada kelarnya walau badai menghadang...ingatlah ku kan selalu setia menjagamu..berdua kita lewati jalan yang berliku tajam...(sing a song Ada Band).. wewww @#$%@.



Pos 2, Genus


Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3, penasaran banget dengan trek engkol-engkolan...mana treknya mana ????

Yang di nanti-nanti akhirnya ada didepan mata....Wawwwww...mari menikmati si engkol-engkolan yang sangat tersohor itu !

Saya berusaha terus semangat, mengoceh-ngoceh becanda dan nyanyi-nyanyi untuk melupakan sakit si datang bulan, dan itu adalah cara yang paling mujarab !!

Di saat semua orang melehoy melangkah tak karua-karuan mengsal mengsol, saya masih menyimpan banyak tenaga untuk bisa berjalan lebih cepat.

Engkol-engkolan




Pos 3, Sedelupak Roto

Setelah perjuangan panjang melewati engkol-engkolan, kami menemukan lahan untuk mendirikan tenda persis di atas setelah engkol-engkolan usai, di bawah pos 3 jam 14.20, satu jam dua puluh menit perjalanan dari pos 2 ke pos 3.

Tempat paling ideal mendirikan tenda dalam cuaca badai adalah dari atas engkol-engkolan (dibawah Pos 3), Pos 3 hingga di bawah Pestan, karena masih banyak pepohonan dan lahannya luas.

Para lelaki mondar-mandir bagai setrikaan mencari lahan yang pas untuk mendirikan empat tenda, sedangkan kaum hawa ngopi-ngopi cantik dan imut.
Setelah lahan yang pas dapat, barulah kami semua bahu membahu mendirikan tenda, dan saya dengan 'setengah' riang gembira mulai memasak menu spesial permintaan suami, sayur asem, ikan asin, tempe goreng.

Kenapa 'setengah' riang gembira ?? karena saya kalau masak sayur asem kaga pernah enak (menurut saya), namun setelah melakukan uji coba di rumah sebelum ke Sumbing suami bilang enak...dan pada saat di pos 3 saya ragu apakah sayur asem saya akan maknyus lagi seperti dirumah ??? secara saya masak buat orang banyak dengan berbagai macam bentuk lidah.

Singkat kata....sayur asem langsung ludes, horeeeeeee berhasil !! berhasilll !! sayur asemnya enak katanya....namun tetap saja tidak enak menurut saya, karena lidah lagi sariawan πŸ˜„.


Pos 3, Sedelupak Roto



Malam hari kami tidur di temani badai, tidur tak nyenyak takut ketimpa pohon tumbang walau pohon di sekitar berukuran kecil hingga sedang tetap saja was-was rasanya...bagaimana kalau tertimpa pohon tumbang ?? sakitnya tuh disini !! ga lucu banget jika besok jadi viral di sosmed akibat tertimpa pohon tumbang @#$%@.

Summit yang semula akan dilakukan jam 2 atau 3 malam melenceng dari rencana karena badai masih saja menemani hingga pagi hari.

Namun akhirnya kami memutuskan untuk summit jam 07.30 dalam keadaan masih badai..Bismillah..


Summit, Otw Pestan


Pestan

30 menit saya sampai di Pestan, tempat yang sangat terbuka, badai semakin kencang terasa...untung saja tubuh ini sudah dihinggapi lemak jahat hingga tak perlu melayang-layang ketika badai menerjang, walau beberapa kali ketika berdiri badan miring-miring harus menahan diri melawan badai, mau selfie pun susahnya minta ampun...hp di genggaman beberapakali hampir jatuh ketika saya ingin merekam adegan 'badai belum berlalu'.

Pestan
 






Di sela-sela bebatuan besar saya beristirahat sejenak karena badai semakin kencang, dingin tak terkira mulai terasa...sudah tak kuat rasanya untuk menahan dingin hingga akhirnya saya lanjut berjalan.
Tak berapa lama saya bertemu teman-teman lain yang sedang beristirahat, saya pun ikut beristirahat kembali...dan tulang berasa di tusuk-tusuk berjuta-juta jarum suntik saking dinginnya, saya memutuskan kembali melangkah beberapa meter dari teman-teman dan memutar-mutari batu mengurangi rasa dingin.

Beberapa dari kami hampir putus asa melanjutkan perjalanan karena cuaca tidak bersahabat, tapi saya optimis karena beberapakali melihat kearah atas terlihat sinar matahari menyapa walau sebentar.

Atas kesepakatan bersama akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju pos berikutnya, dan saya jalan super ngebut agar bisa menghangatkan tubuh.

Trek menuju Pasar Watu


Pasar Watu

Satu jam saya sampai di Pasar Watu, sesuai dengan namanya di sini yang ada hanya batu dan batu dengan berbagai bentuk dan ukuran.


Pasar Watu



Saya hanya bisa memandang kearah depan, kedinginan, terpana membisu dan berpikir...apakah saya harus memutar-mutari batu lagi ? (ah sudah lah).
Suami meminta saya untuk beristirahat di antara bebatuan sambil duduk di dekat kompor menikmati minuman hangat agar tidak kedinginan...dan saya merasa hangat, sejenak.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba tangan dan kaki saya berasa baal (kebal) agak mulai sulit di gerakan, bibir terasa kaku, tubuh menggigil luar biasa.. saya mulai merasa pusing, lemas dan agak mengantuk.
Saya sudah tidak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Suami, Egi dan Agus...saya perlu kekuatan untuk bicara : Saya hanya butuh berjalan !! (walau hanya memutari batu-batu).

Yang saya dengar terakhir adalah Egi mengatakan..mak di lawan mak ! di lawan mak ! (ngoceh terus lu gi !! berisik !!😝).
Ya..mungkin saya bisa melawan dinginnya, tapi tak punya kekuatan bicara.
Hingga di titik kekuatan hati mengalahkan kekuatan badai (lebay πŸ˜‚), saya bicara pada suami jika saya ingin berjalan...dan suami langsung meng iya kan.

Entah lah semangat apa yang tiba-tiba merasuki diri saya, secepat kilat saya berdiri dan langsung berjalan cepat melewati trek-trek yang super ekstrim..saya merasa hangat kembali, layaknya seperti baru menemukan jati diri saya enjoy menghadapi trek yang ampun-ampunan berupa batu dan tebing..trek favorit saya 😍.

Sebut saja Mawar binti Hayati, dia selalu protes jika saya bilang trek favorit πŸ˜‚πŸ˜‚

Ini adalah trek paling menakjubkan nan menantang !! trek yang saya impi-impikan...hamparan batu besar nan terjal berupa tebing..bujubune edun deh pokoknya mah...hap hap hap..bagai lutung kasarung saya menikmati trek.
Saya lebih suka trek seperti ini daripada tanah menanjak landai yang bikin ngeselin dan emosi jiwa..pegel dan ngo-ngosannya ga karu-karuan.

Trek menuju Watu Kotak
 




Mendekati Watu Kotak badai perlahan mulai berlalu, cuaca agak cerah berselimut kabut..gunung Sindoro mulai terlihat.


Watu Kotak

Satu jam kurang saya sampai di watu kotak, tempat yang termasuk ideal juga untuk mendirikan tenda karena tidak ada angin terhalang tebing tinggi, namun lahan sangat sempit hanya bisa mendirikan dua buah tenda saja.

 Watu Kotak 


Di Watu Kotak kami tidak beristirahat, hanya berhenti sejenak dan melanjutkan perjalanan.
Trek menanjak dengan bebatuan ukuran sedang dan kecil.
Cuaca mulai terlihat lebih bersahabat lagi..cerah namun masih berangin.

Trek menuju Tanah Putih



Jam 11.50 saya memasuki kawasan Tanah Putih, saya merasa tempat ini seperti di Gunung Ciremai via Palutungan & Apuy ketika akan memasuki puncak...so saya berpikir tak lama lagi puncak akan segera sampai...cmiwwww.

Suami membiarkan saya berlalu didepan, karena dia tau saya suka trek seperti ini..atraksi lutung dimulai lagi  😝.


Trek menuju Puncak

Tanah Putih


Saya terus bersemangat melewati jalur yang kian terjal berbatu, berharap segera sampai puncak dengan cuaca yang sudah cerah.

Di pertengahan jalan ada plang puncak ke kanan mengarah ke Puncak Sejati, sedangkan yang lurus kearah Puncak Buntu.
Dari plang puncak jika ingin cepat sampai ke puncak ambil saja arah lurus karena ke Puncak Buntu lebih cepat sampainya di banding ke Puncak Sejati, tapi saya lebih tertarik mengambil arah ke kanan.

Puncak Sumbing

Jam 12.00 saya sampai di Puncak...karena kami berpencar-pencar ketika menuju puncak terjadilah kekonyolan..satu kelompok ada di puncak ini, satu kelompok ada di puncak itu, dan satu kelompok ada di puncak yang onoh....lohhhh lu kok ada disana ?? lahhh si itu kok ada disitu ??...gubrakkkkk !!
Fine...kami saling dadah-dadahan dan teriak-teriakan dari puncak agar bisa saling menghampiri.

Untuk bisa mempersatukan kami kembali tidak bisa langsung bertemu memipir puncak dengan gampang karena tiap puncak tidak ada jalan yang nyambung, tapi kami harus turun dulu dan naik kembali...ooohhhhh indahnya...arrggghhhhh cape dwehhhh !!

Alhasil...tiga puncak saya singgahi, entah puncak apa saja...puncak Sumbing, Sumbing, dan Sumbing...triple S kalo menurut bunga bangke bin etek-etek πŸ˜‚.

Alhamdulillah setelah perjuangan panjang menerjang badai sampai di puncak dengan cuaca cerah ceria walau angin kadang-kadang masih terasa kencang...tuntas sudah 3 orang (Saya, Suami dan Agus) menggapai 3S (Slamet Sindoro Sumbing)...love it 😊.

 Puncak Sumbing 
 

 



3S




Perkiraan Waktu Tempuh Normal (mengutip mbah google, bukan waktu tempuh sayaπŸ˜‚) :
Basecamp – Pos 1 (2 jam berjalan kaki, setengah jam naik ojek)
Pos 1 – Pos 2 (kurang lebih 2 jam)
Pos 2 – Pos 3 (kurang lebih 1 jam)
Pos 3 - Pestan (kurang lebih setengah jam)
Pestan – Watu Kotak (kurang lebih 1,5 jam)
Watu Kotak – Puncak Buntu/Kawah (kurang lebih 2 jam)
Puncak Kawah - Puncak Sejati (kurang lebih 15 menit)
Total : 8-9 Jam (tergantung kecepatan kamu berjalan)



















Photo by PSBS



Artikel lainnya (KLIK) :


1 komentar: